Hipotermia

” Hipotermia merupakan suatu kondisi di mana tubuh mengalami kesulitan dalam mengatasi tekanan suhu dingin dan mengalami penurunan hingga di bawah suhu normal tubuh ”

Normalnya suhu tubuh manusia adalah 36-37ºC. Anda perlu berhati-hati jika suhu tubuh menurun hingga 32ºC, sebab Anda dinyatakan sekarat atau kondisi kritis. Karena, di saat suhu tubuh berada di titik ini –atau kurang dari 32ºC– maka sel-sel tubuh tak dapat bekerja. Begitu juga dengan sistem metabolisme tubuh yang tak dapat berjalan. Para pendaki gunung lebih sering mendapat serangan ini.

Gejala.

Gejala dan Indikasi Penyakit Hipotermia :

– Hipotermia diawali dengan gejala kedinginan seperti biasa, dari badan gemetaran menahan dingin sampe gigi berkerotakan kerna ndak kuat nahan dingin.

– Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.

– Selain itu bila angin bertiup kencang, maka pendaki akan cepat sekali kehilangan panas tubuhnya (”faktor wind cill” kalo ndak salah). Jadi kalo badan basah kuyub kehujanan dan angin bertiup kencang, maka potensi hipotermia menjadi “paradoxical feeling of warmt” akan semakin cepat terjadi.

– Puncak dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa kedinginan, tapi dia malah merasa kepanasan (dlm bukunya Norman Edwin disebut “paradoxical feeling of warmt” kalo ndak salah). Oleh karena itu si korban akan melepas bajunya satu per satu sampe bugil dan tetap masih merasa kepanasan.

– Hipotermia menyerang saraf dan bergerak dg pelan, oleh karena itu sang korban tidak merasa kalo dia menjadi korban hipotermia. Dari sejak korban tidak bisa nahan kedinginan sampe malah merasa kepanasan di tengah udara yg terasa membekukan, korban biasanya tidak sadar kalo dia telah terserang hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan (terutama team leader atau kawan pendaki yg lebih pengalaman) sangat penting artinya utk mengawasi apakah kawan2 kita ada yg sakit (hipotermia, frostbite, mountain sickness, stress, dll). Jadi kalo ada kawan2 seperjalanan kita mulai bertingkah aneh2 yg di luar kebiasaannya, maka kita patut curiga dan waspada ada apa dg dia dan tentu saja perlu segera memeriksa atau menanyai apakah dia masih “sadar” atau tidak.

Mengatasinya:

  • Saat tanda-tanda hipotermia mulai terlihat, segeralah berhenti. Tak ada gunanya mengabaikannya, apalagi terus memaksakan diri. Itu hanya akan memperparah keadaan dan membuat Anda kehilangan kesadaran.
  • Hal berikutnya yang bisa Anda lakukan adalah menghangatkan tubuh. Gunakan selimut hipotermia selama lebih kurang 10 menit. Jika Anda memang tak memiliki selimut hipotermia, Anda bisa menggunakan sleeping bag sebagai sarana penghangat. “Kalau bisa, beberapa orang yang masih dalam kondisi sehat turut masuk ke dalam sleeping bag agar terjadi proses pertukaran panas,” kata dr. Chicho. Ini akan mempercepat proses pemulihan daripada membiarkan penderita hipotermia sendirian.
  • Usahakan agar dia tak sampai kehilangan kesadaran, atau dia akan benar-benar kehilangan kesadaran selamanya. Untuk menjaganya tetap sadar, Anda bisa memberi minuman manis yang hangat. Berikan secara perlahan saja. Tapi, jika memang dia sudah kehilangan kesadaran, segera bawa turun untuk mendapat pertolongan medis sesegera mungkin.

Mencegahnya.
– Bila melakukan kegiatan luar ruangan (pendakian gunung khususnya) pada musim hujan atau di daerah dengan curah hujan tinggi, maka membawa ponco/raincoat adalah suatu keharusan. Selain mbawa jas hujan, pakaian hangat (jaket tahan air dan tahan angin, kalo perlu) dan pakaian ganti yg berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan dan kerpus/balaclava/topi ninja juga sangat penting. Perlengkapan yg tidak kalah pentingnya adalah sepatu pendakian yg baik dan dpt menutupi sampe mata kaki, jangan pake sendal gunung atau bahkan jangan pake sendal jepit. Naik gunung pada musim hujan bukan untuk pamer kehebatan.

– Bawa makanan yang cepat dibakar menjadi kalori, spt gula jawa, enting2 kacang, coklat dll. Dalam perjalanan banyak “ngemil” untuk mengganti energi yg hilang.

– Bila angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan pakaian hangat, spt jaket, kerpus/balaclava dan kaus tangan. Kehilangan panas tubuh akibat faktor “wind cill” tidak terasa oleh kita, dan tahu2 aja kita jatuh sakit.

– Bila hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan menunggu hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tidak dapat diduga. Hindari pakaian basah kena hujan.

– Bila merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya terus terang pada team leader atau anggota seperjalanan yg lebih pengalaman untuk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu.

– Jangan kawatir  tidak sampai puncak pendakian dengan semangat dan tekad kuat pasti bisa mencapai puncak pendakian.

instansi ataupun perusahaan anda mau mengadakan outbound trainingpercayakan pada kami executive adventure outbound malang.

segera hubungi kami di 081 233342777  atau di  www.outboundmalang.com

bisa juga kunjungi website kami lainnya di

www.outboundkita.com

www.outboundgames.com

www.wisataoutboundanak.com

www.kasembonrafting.com

www.kasembon-rafting.com

www.flyingfoxindonesia.com

www.alatoutbound.com

www.theexploreindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*